perbub no 101 tahun 2022 ayat 13 bikin resah peguyuban pasar sore

pedagang kaki lima adalah salah satu pelaku usaha sektor informal yang perlu di beri kesempatan untuk meningkatkan serta mengembangkan usahanya begitulah kira _ kira bunyi dasar pada perda no 4 tahun 2021 .

namun menurut bapak abd Gani selaku ketua peguyuban pedagang kaki lima pasar sore bahwa dalam hal ini bunyi dari perda di atas tersebut bertolak belakang dengan bunyi perbub no 101 tahun 2022 ayat 13 yang mengatur tentang lokasi yang boleh di tempati pedagang kaki lima pasar sore yang sebetulnya perbub ini bisa membuat dagangan kami tidak akan laku lagi kalau kami di pindah.

masih menurutnya bukankah antara perbub dan undang _ undang 1945 hakikatnya lebih tinggi undang _ undang 1945 yang menyebutkan di pasal 33 UU 45 ayat 3 bahwa bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar _ besar kemakmuran rakyatnya serta di pasal 34 ayat 1 menyebutkan bahwa negara berkewajiban untuk memelihara fakir miskin dan anak terlantar.

maka dari itu sudah jelas bahwa perbub dan perda gugur demi hukum , karena pada dasarnya semua peraturan itu di mentahkan oleh UU 1945.

dengan adanya perbub itu peguyuban pedagang kaki lima merasa resah karena di pasar sore sudah menjadi ladang basah untuk dagangan kami semua.

saat di temui awak media ini ketua paguyuban pasar sore abd. Gani mengatakan , kami repot mas dengan pemkab , sudah tidak membantu kami sesuai UU di atas malah kami diusir dari rumah kami sendiri .

indonesia sudah lama merdeka tapi kenapa kami seakan _ akan di jajah di rumah kami sendiri .

kami akan lakukan audiensi sama bupati Pamekasan yang membuat perbub itu sendiri mungkin dalam minggu_ Minggu ini ujarnya .

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *