Penyekatan Mudik Jebol, dr.Tirta: Saya Justru Kasihan sama Polisinya

Indopersnews.com Penerapan aturan terkait larangan mudik telah diberlakukan pada, Kamis 6 Mei 2021 berlaku hingga Selasa, 18 Mei 2021. Penerapan larangan mudik berlaku untuk semua penggunaan atau pengoperasian sarana transportasi baik di darat, laut, udara, dan kereta api.

Pemerintah bersama kepolisian juga telah melakukan penyekatan di beberapa titik, baik di jalan tol mau pun jalan umum sampai jalur tikus. Pasalnya, meskipun pemerintah telah mengeluarkan aturan terkait larangan mudik Idul Fitri 2021, rupanya tercatat masih banyak masyarakat yang nekat untuk pulang ke kampung halaman.

Menanggapi kasus penyekatan jebol tersebut, Tirta Mandira Hudhi atau yang kerap disapa dr.Tirta pun buka suara. Ia menyebut bahwa dirinya merasa sangat pilu saat mendengar komentar yang melontarkan bahwa penyebab jebolnya penyekatan adalah karena pihak kepolisian yang kurang sigap.

“Saya secara pribadi justru kasian sama polisinya, karena banyak komentar yang mengatakan polisinya gagal, polisinya salah,” ujarnya. Dr.Tirta juga menyebut bahwa Polisi itu tugasnya menegakkan hukum, jadi menurutnya, aturan terkait larangan mudik itu bukan polisi yang membuatnya, melainkan para regulator.

“Selama ada pegangan hukumnya, polisi akan menegakkan larangan mudik tersebut dari 6- 18 Mei. Ketika terjadinya jebol penyekatan mudik di Bekasi atau Karawang, jujur yang kasian pertama adalah polisinya,” katanya, dikutipdari kanal YouTube Tirta PengPengPeng, yang diunggah pada 16 Mei 2021.

Ia mengungkapkan mengapa dirinya merasa kasihan kepada aparatur keamanan negara tersebut, tidak lain adalah harus merelakan momen besar dengan menjalankan tugas.

“Karna pertama mereka gak mudik, kedua tugas mereka itu mengamankan mudik ya, dan mereka sebenernya tuh jauh dilubuk hatinya mereka kasian banget sama orang yang mudik jauh-jauh sampai akhirnya nekat. Akhirnya terjadi antrean yang sangat panjang, itu kan membuat kemacetan karena kan untuk seleksi jalur-jalur seperti itu kan haruis menunjukkan SKIM, lalu surat RT, RW, surat Dinas, atau surat menyatakan kedaruratan atau swab antigen,” tuturnya.

“Oleh karena itu, karena menyebabkan kemacetan, maka mau tak mau polisi harus bertindak secara darurat. Mana yang mudhorotnya lebih kalau ditahan akan menyebabkan kemacetan yang sangat ruwet yang akhirnya malah terjadi kerumunan. Akhirnya sama polisi blong-blongan,” tutur dr.Tirta.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: